Rawon brintik Malang Yang Legendaris

Rawon Brintik, nama yang aneh bukan? Tetapi, kenapa namanya Rawon Brintik? Yuk, mari simak penjelasan di bawah ini!

Malang merupakan destinasi wisata utama masyarakat Jawa Timur dan sekitarnya. Walau begitu, banyak juga wisatawan berasal dari luar kota, provinsi, dan bahkan mancanegara. Selain menyuguhkan banyak wisata, juga diimbangi dengan suguhan berbagai macam kulinernya.

Letak Malang yang memiliki geografis di dataran tinggi ini membuat suhu udara lebih dingin dibanding kota tetangganya. Terkadang dengan udara begitu dingin ini membuat perut keroncongan.

Rawon-Brintik-malang-yang-legendaris

Rawon Brintik ini didirikan oleh Ibu Maslihah Hasyim sejak tahun 1942 yang setelah itu dipegang kendali oleh buyutnya yaitu Ibu Nafsiah. Kuliner ini dibanderol dengan harga 20.000 rupiah.

Jika masih ingin tambah dengan lauk favorit juga bisa lho. Di sana tersedia lauk berupa tempe goreng renyah, paru, hingga mendol yang dapat menjadi teman daging di piringmu.

Bu Muslihah mengatakan bahwa, awalnya warung tersebut berada di Jalan Petukangan yang saat ini berubah menjadi Jalan Gatot Subroto. Kemudian sekarang pindah lokasi di Jalan Ahmad Dahlan sekitar 1965 atau 1966.

Mau tahu kenapa dinamakan Rawon Brintik? Ternyata nama ‘Brintik’ diambil dari nama julukan bagi penjualnya. Penjualnya bernama Nafsiah yang mempunyai rambut keriting.

Julukan tersebut dipakai untuk membedakan rawon miliknya dengan penjual rawon lainnya. Kini cucu Nafsiahlah yang mengelola warung tersebut. Warung tersebut buka mulai pukul 05.00 WIB. Cocok sekali bagi pegawai kantoran atau anak sekolah yang ingin memulai hari dengan sarapan menu ini.

Lokasi warung Bu Nafsiah  memang berada di tengah kota. Pasti seru jika meluangkan waktu di akhir pekan dengan berburu kuliner legendaris di kota Apel ini.

Meski Warung Rawon Brintik ini nampak begitu sederhana dengan bentuk bangunan tua berwarna putih. Namun, di balik kesederhananya warung ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan warung rawon lainnya di kota berhawa dingin ini.

Di masa awal dulu, Bu Muslihah menjelaskan bahwa warung ini lebih terkenal dengan menu rawonnya yang tidak pernah berubah cita rasanya selama empat generasi.

Kemudian ditambah menu-menu khusus lainnya seperti bumbu rujak ayam, kare ayam kampung, dan semur daging. Seluruh makanan tersebut dimasak menggunakan arang dan bersama bahan-bahan dari pedagang yang telah berlangganan sejak warung tersebut berdiri.

Bu Maslihah tahu betul bahwa saat ini sudah banyak berbagai teknologi alat masak yang ditawarkan dunia. Kompor minyak maupun gas tidak bisa menggantikan minat untuk memasak menu-menu warungnya.

Beliau bersama keluarganya tetap menggunakan tungku arang yang sudah dianggap lebih menimbulkan cita rasa yang berlebih. Karena, menurutnya arang bisa lebih membuat daging maupun daging ayam lebih berasa dan gurih. Dagingnya pun lebih empuk dan lezat dibandingkan rawon biasa lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *